Berbagi Kesan dengan yang Tercinta

Bali.... Betapa indahnya pulau ini. Berapa kalipun seseorang pergi ke sini, dia pasti akan selalu  dapat menemukan hal baru di pulau ini. Sama seperti Vena dan Leo yang jauh-jauh dari Surabaya menghabiskan waktu liburan tahun barunya bersama kedua temannya di Bali. Mereka telah siap menyambut petualangan apapun yang akan mereka dapatkan di sini. Vena mengingat betapa Leo lah orang yang dulu meyakinkannya untuk dapat melawan dirinya sendiri dan juga segala ketakutannya supaya dapat mengeksplorasi hal-hal baru di dalam hidupnya.
            “Setelah ini kita ke mana?” tanya Vena sambil memandang Leo yang menikmati pemandangan pantai.
            “Hmm.... Di dekat hotel ada yang jual ayam betutu enak banget. Setelah ini kita ajak Dika dan Karen balik ke hotel dan makan di sana. Gimana?” Leo menjawab sambil merangkul bahu Vena.
            “Oke. Aku sudah lapar.” Vena tersenyum.
Leo pun mengajak kedua temannya untuk bersiap-siap kembali ke hotel. Sudah seharian mereka menghabiskan waktu di pantai Sanur, bermain ombak, surfing, dan membuat bangunan dari pasir. Betapa menyenangkan. Mereka segera menuju ke parkiran untuk mengambil motor sewaan yang mereka gunakan selama berlibur. Leo mengambil jaket dan helm Vena yang tergantung di motor.
            “Ingat, pakai jaket dan helm!” kata Leo sambil tersenyum kepada Vena. Vena mengenakan jaketnya kemudian Leo memasangkan helm Vena. Lalu Leo memegang bahu Vena, menatap matanya lembut, dan berkata, “Are you ready?” Dan Vena pun mengangguk mantap diiringi dengan senyuman di wajahnya.
            Diam-diam Dika, sahabat Leo yang ikut berlibur ke Bali itu, melirik ke arah Leo dan Vena. Sambil sedikit tersenyum, Dika teringat bahwa dulu Vena merupakan wanita yang sangat sulit didekati oleh pria bermotor.
Dika segera menyalakan mesin motornya dan pergi bersama ke hotel. Sambil menyetir, Dika terus mengingat saat-saat di mana ia meyakinkan Leo untuk melupakan Vena.

-24 Agustus 2015-
‘Ah... Bidadari itu..’ kata Leo dalam hati melihat seorang wanita berjalan memasuki perpustakaan kampus. Vena, wanita berusia 20 tahun, mahasiswi jurusan Ilmu Komunikasi di salah satu Universitas ternama di Surabaya, yang kehadirannya selalu membuat banyak pria jatuh hati. Begitu juga Leo, sang kakak kelas yang baru saja mengenalnya saat mereka terlibat dalam satu kepanitiaan bulan Juli lalu. Mata Leo tak bisa lepas dari sosok Vena. Apalagi saat melihat Vena tersenyum, hatinya serasa ikut sumringah saat itu juga.
            “LEO! Oooooyyy!!!!” dengan tangan dikibas-kibaskan di depan muka Leo, Dika setengah berteriak memanggilnya.
“Ssssstttt!! Gila apa teriak-teriak di perpustakaan?” sahut Leo  berbisik sesaat setelah terhenyak dari lamunan siang harinya.
            “Ya, ampun! Siang-siang begini, pikiran udah melayang ke mana aja nih?? Sampai dipanggil ribuan kali juga nggak nyahut!”
            “Ssssttt....!” Leo menaruh jari telunjuknya di depan bibirnya, lalu kemudian mengarahkan jarinya ke arah Vena, “Lihat, bro! Vena cantik banget hari ini.” Saat itu juga Dika melihat Vena yang sedang menaruh barang-barangnya di dalam loker.
            “Jadi itu yang dari tadi buat kamu jadi sering melamun akhir-akhir ini? Udahlah... Lupakan aja! Dia nggak mungkin tertarik sama kamu. Dia itu orang yang pilih-pilih.”
            “Pilih-pilih maksudnya?” Leo menatap Dika dengan penuh tanya. Sambil menyiapkan laptopnya, Dika menjelaskan bahwa Vena sudah menolak beberapa pria dengan alasan mereka naik motor. Leo mengernyitkan dahinya sedikit tak percaya. Vena, sosok yang terkenal sangat ramah, supel, dan dapat berbaur dengan siapa saja (bahkan dengan satpam atau cleaning service sekalipun) bisa memiliki alasan semacam itu untuk menolak pria?
            “Bro, kamu kalau bicara yang benar aja! Dari mana kamu bisa berpikir seperti itu?”
            “Gini, aku ceritain! Vido, si ketua BEM, tahu, kan? Baru tadi pagi dia cerita kalau dia ditolak oleh Vena dengan alasan itu. Beberapa minggu yang lalu, Ivan, anak teknik, dia juga cerita hal yang sama. Dan ternyata masih ada 2 orang lagi yang pernah ditolak Vena dengan alasan yang sama. Gimana? Masih nggak percaya?”
            Leo termangu-mangu dengan penuh rasa tidak percaya atas apa yang baru saja didengarnya. Dika tertawa kecil melihat sahabat baiknya itu. Sambil merangkul bahu Leo, Dika sekali lagi berkata,
“Udahlah, bro. Mumpung kamu juga baru kenal sama Vena, kan? Lebih baik jangan terlalu berharap lah... Dia pasti juga tahu kalau kamu setiap hari naik motor ke kampus. Dia nggak mungkin pernah memikirkan untuk bersama kamu ke depannya.”
***
           
Makanan pesanan mereka datang. Ayam betutu yang aromanya sudah mengelus-elus hidung sejak mereka sampai di kedai ini membuat mereka menjadi sangat lapar. Jadi tidak heran mereka begitu antusias melihat pesanan mereka sampai di meja. Satu jam lamanya mereka menghabiskan waktu mereka untuk makan bersama. Dika, yang duduk di sebelah Karen, kekasihnya, sampai kekenyangan karena dia menghabiskan 2 porsi ayam betutu malam itu. Karen tertawa kecil melihat perut Dika yang membulat setelah makan.
            Setelah selesai makan dan membayar, mereka berempat pun kembali ke hotel. Karena terlalu lelah, mereka berempat pun memutuskan untuk langsung masuk ke kamar masing-masing dan tidur.
***
           
Keesokan harinya setelah sarapan bersama di hotel, mereka pun bersiap-siap untuk berangkat. Kali ini mereka akan mengunjungi tempat penangkaran penyu. Mereka berangkat dengan motor. Sekali lagi, sebelum berangkat Leo menanyakan hal yang sama pada Vena, “Are you ready?” Lalu Vena pun mengangguk mantap. Melihat hal itu, Dika agak heran juga, tapi dia tidak mau terlalu memikirkannya. Mereka pun berangkat bersama dengan motor secara beriringan.
            Sepanjang perjalanan Vena selalu tersenyum. Ia merasakan angin yang berhembus, melihat rumah-rumah di sepanjang jalan, melihat ke langit arah yang biru, semua membuatnya ingin selalu tersenyum. Seperti inikah rasanya hal yang dulu dia takutkan? Ternyata begitu indah jika dinikmati. Semua bisa berjalan dengan baik ketika kita tahu bahwa kita akan aman, apalagi ada kekasih yang mendampingi perjalanan-perjalanan kita setiap harinya.
            Bayang-bayang masa lalunya terkadang masih muncul di benaknya, namun hal itu tidak terlalu berpengaruh lagi sekarang jika dibandingkan dengan dulu. Ketakutan Vena itu tidak pernah muncul lagi sekarang. Semua berkat Leo yang selalu berusaha membuatnya melawan segala ketakutannya itu.
            Sampai di tempat penangkaran penyu, mereka berempat menghabiskan waktu dengan bermain bersama penyu-penyu di sana. Vena dan Karen lebih menyukai penyu-penyu yang masih kecil. Mereka bisa mengangkatnya karena tidak terlalu berat. Terlebih lagi, ini adalah pertama kalinya bagi Karen dan Vena melihat penyu secara langsung. Betapa antusiasnya mereka. Dika dan Leo justru lebih asyik memotret mereka. Berbekal kamera dari android mereka masing-masing, mereka terlihat asyik mengabadikan momen-momen mereka di sana. Terutama Leo, dia begitu asyik memotret wajah kekasihnya yang begitu cantik dan ceria. Leo memang akan selalu mengagumi senyum dan  tawa Vena.
            Setelah puas bermain di penangkaran penyu, mereka pergi menuju ke pelabuhan karena mereka telah memesan tiket makan siang di kapal cruise. Mereka begitu antusias untuk segera sampai ke pelabuhan. Sesampainya di pelabuhan, mereka pun langsung berlari menuju kapal cruise yang telah menunggu mereka. Mereka memilih tempat duduk yang dekat dengan jendela lalu mereka mengambil secara bergantian beberapa makanan dalam buffet yang tersedia. Kali ini mereka benar-benar puas makan sambil melihat pemandangan laut lepas yang membuat siapapun juga ingin ikut merasakannya.
            Menjelang sore, mereka berempat memutuskan untuk segera kembali menuju ke hotel. Perjalanan hari ini sungguh melelahkan sekaligus menyenangkan bagi mereka. Setibanya di hotel, Karen dan Vena langsung menuju ke area spa yang tersedia. Mereka telah menanti kesempatan untuk bisa spa di hotel sebagus ini. Berbeda dengan Leo dan Dika, mereka menuju ke pantai yang dapat mereka akses dari belakang hotel mereka. Sambil menikmati angin pantai, mereka membeli kelapa muda dan membawanya berjalan di pesisir pantai dan kemudian duduk di sana menikmati pemandangan sunset.
            Dika memanfaatkan kesempatan ini untuk memenuhi rasa ingin tahunya kepada Leo. Bagaimana Vena akhirnya memilih Leo untuk menjadi kekasihnya? Bagaimana Vena yang menolak cowok bermotor justru memilih Leo yang juga cowok bermotor?

-25 Agustus 2015-
Jam kuliah hari ini selesai. Vena melihat jam tangannya yang menunjukkan pukul 16.00. Dia bergegas menuju ke jalan raya di depan kampus untuk menunggu bis yang biasa membawanya menuju ke kompleks perumahannya. Dia baru ingat bahwa hari ini adik sepupunya ingin dibuatkan kue bolu favoritnya. Saat Vena baru saja melewati pos satpam, tiba-tiba datanglah seorang pria menghampirinya dengan mengendarai motor.
            “Vena!” panggil pria itu lalu menghentikan motornya di sebelah Vena. Dia membuka helmnya dan ternyata dia adalah Leo.
            “Oh. Hai, Kak Leo!” jawab Vena tersenyum melihat Leo menyapanya.
            “Mau pulang? Boleh aku antar?” tanya Leo.
            “Hmm.....,” Vena hanya bergumam dan terlihat bingung.
            “Ayolah! Aku bawa satu helm lagi, kok!” kata Leo tersenyum sambil menyodorkan helm kepada Vena.
            “Hmm... Maaf, Kak Leo. Aku pulang naik bis aja, ya.” tolak Vena halus.
            “Kenapa, Ven? Daripada naik bis, bukannya lebih baik aku antar sampai rumah?”
            “Makasih, Kak, tapi aku naik bis aja. Nggak apa-apa, kok.” Tolak Vena lagi.
            “Tapi...”
            “Aku duluan, ya, Kak! Bisnya udah mau sampai! Aku harus cepat-cepat ke halte. Daaahh...” jawab Vena lalu berlari menuju halte sebelum tertinggal bis. Leo yang tertinggal sendiri di sana hanya bisa melongo dan bingung. Terpaksa dia pun pulang sendirian tanpa bisa mengajak Vena pulang bersama.
---
Kue bolu yang lezat sudah jadi. Vena segera menghidangkannya di meja makan. Bibinya, kakak dari ayahnya, berjalan menuju ke meja makan bersama Evan, yang tak lain adalah adik sepupu Vena.
            “Wah, kue bolunya sudah jadi! Aku ambil piring, ya, Kak! Sudah nggak sabar, nih! Hehehee..” kata Evan, cowok kelas XI SMA itu, sambil mencari piring di lemari dapur.
            “Vena, kamu pasti capek, ya pulang dari kampus langsung harus bikin kue bolu. Evan, lain kali kamu jangan bikin repot Kak Vena lagi, ah! Kasihan, kan..” kata Bibi Lisa pada anaknya itu.
            “Ah, sudahlah, Bi. Aku buat kue bolu dengan senang hati, kok.” sahut Vena sambil tersenyum pada bibinya. Vena sejak kecil sudah tinggal bersama keluarga bibinya ini sehingga Vena sudah menganggap keluarga ini seperti keluarganya sendiri.
            “Tuh, Mama dengar, kan Kak Vena bilang apa? Hehehe... Sering-sering, lho, Kak!” kata Evan menggoda kakaknya.
            “Wah.. Dasar kamu, nih, Van!” sahut Bibi Lisa pada Evan. Bibi Lisa pun mengambil pisau dan memotong kue bolu yang masih panas itu di atas meja makan. Tak lama kemudian Paman Danny pun menyusul ke meja makan setelah mencium aroma kue bolu yang tercium sampai ke teras depan rumah.
Paman Danny memuji keponakannya itu yang sangat pandai membuat kue dan memasak segala jenis masakan. Vena tersenyum mendengar pujian itu.
            Tiba-tiba HP Vena bergetar. Vena pergi ke kamarnya dan membuka HPnya. Lalu ia tersenyum melihat ada chat masuk dari Leo.
            ‘Hai, Vena. Lagi apa, nih? Sudah makan? Ayo kita makan bareng. Ada waktu?’
            Vena senang sekali mendapatkan chat itu. Baru saja ia ingin menyetujui untuk makan bersama, tapi akhirnya Vena beralih mengetik pertanyaan lain.
            ‘Kak Leo mau jemput aku? Naik apa?’
            Tak lama kemudian, Leo membalasnya, ‘Naik motor, dong. Aku, kan kos. Aku cuma ada motor. Kita makan dekat rumahmu aja, deh. Jadi nggak jauh-jauh amat dari rumahmu. Gimana?’
            Vena terdiam sebentar. Teringat lagi kejadian kala itu. Tanpa berpikir panjang lagi, Vena menolak tawaran Leo, ‘Maaf, Kak. Mungkin lain kali aja kita makan bareng, ya?’
            Dengan sedikit bingung, Leo menjawab lagi, ‘Oke kalau begitu. Besok kita makan siang bareng, ya? Di kantin kampus.’
            Sambil tersenyum, Vena menjawab, ‘Oke, Kak. See you!’ Setelah itu Vena kembali ke meja makan dengan senyum merekah di wajahnya.
***
           
“Awalnya aku sempat bingung, sih,” kata Leo pada Dika, “Aku sempat hampir percaya bahwa Vena memang tidak menyukai cowok bermotor.”
            “Terus, apa yang membuat kamu terus mau dekatin Vena?” tanya Dika lalu menyeruput kelapa mudanya.
            “Aku melihat ada rasa takut yang tersembunyi ketika aku mengajaknya naik motor, tapi pada saat itu aku nggak ngerti apa.” jawab Leo.
            “Ketakutan apa? Takut naik motor? Takut diculik maksudnya?? Hahahahaa...” ledek Dika menanggapi pernyataan Leo sambil tertawa.
            “Kamu tahu? Vena tinggal dengan keluarga pamannya?” tanya Leo.
            “Oh, ya?? Aku baru tahu. Memang orangtuanya ke mana?” sahut Dika.
            “Mereka sudah meninggal waktu Vena masih usia 6 tahun.”
            “Oh.... Maaf.. Aku nggak bermaksud...”
            “Nggak apa-apa. Aku ngerti, kok.” kata Leo sembari memainkan pasir di dekat ia duduk.
            “Pasti berat banget, ya buat Vena,” kata Dika pelan, “Lalu apa hubungannya sama yang tadi?”

-Juni 2001­-
            “Vena, sayang. Mama sama papa pergi dulu sebentar, ya. Cuma sebentar aja, oke?” kata mama Vena pada anaknya yang berusia 6 tahun itu.
            “Jangan, Ma... Mama di rumah aja sama Vena... Nggak mau, Ma...” rengek Vena.
            “Sayang, sebentar aja, kok. Kamu di rumah sama Mbak Mila dulu, ya. Nanti kita pulang bawa oleh-oleh buat kamu. Mau?” kata papanya mencoba menenangkan anaknya.
            “Nggak mau, Pa.... Vena nggak mau di rumah sendirian sama Mbak Mila aja. Maunya sama Papa Mama...”
            “Sebentar aja, kok, sayang. Kamu jangan merengek terus, dong. Tunggu sebentar aja. Oke?” kata papa Vena lagi, ”Mbak, tolong jagain Vena sebentar, ya. Kita pergi sebentar cuma ke supermarket dekat sini.”
            “Sebentar saya ambilin helm sama jaketnya, ya, Tuan.” kata Mbak Mila hendak bergegas.
            “Nggak usah, Mbak. Kita hanya ke dekat sini, kok,” sahut papa Vena lagi, ”Kalau kami perginya jauh baru kamu siapkan jaket sama helmnya.”
            Kemudian orangtua Vena bergegas menaiki motor dan motor itu melesat dengan cepatnya dan dalam sekejap motor itu menghilang di ujung tikungan. Mbak Mila sempat menggelengkan kepalanya dan berkata sendiri, ”Tuan memang paling jago kalau urusan ngebut-ngebutan begini.”
 Mbak Mila pun menggendong Vena masuk ke dalam rumah. Itulah terakhir kalinya Vena melihat orangtua mereka. Vena menangis dan menunggu mereka pulang hingga ia tertidur malam itu. Keesokan harinya ia melihat Bibi Lisa datang ke rumahnya dan mengatakan bahwa mulai saat itu Vena akan tinggal bersamanya.
***
           
“Jadi, orangtuanya meninggal dalam kecelakaan motor??” kata Dika setengah tidak percaya, “Leo, aku nggak pernah nyangka alasannya ternyata seperti itu,” sambungnya lagi dengan mata yang masih melotot memandang Leo di sebelahnya.
            “Vena takut kalau dia naik motor, dia nggak akan bisa pulang lagi, sama seperti kedua orangtuanya. Dia punya trauma semacam itu dari kecil. Aku sempat nggak bisa berkata apa-apa juga waktu Vena menceritakan hal itu ke aku.”
            Mereka terdiam sejenak saat itu juga. Leo membuka androidnya dan tersenyum memandang foto-foto Vena.
***

-28 Oktober 2015
            “Vena, ini aku belikan helm dan jaket khusus buat kamu,” kata Leo sambil menyodorkan bingkisan yang dipegangnya pada Vena, “ Ayo sekarang kita coba naik motor!”
            Vena melihat bingkisan itu, menerimanya, dan melongok ke dalam. Dilihatnya sebuah jaket merah yang cantik dan helm standard SNI berwarna merah pula, warna kesukaan Vena. Hatinya bergetar ketakutan, tapi dilihatnya kekasihnya itu benar-benar meyakinkan Vena bahwa dia akan aman bersama Leo.
            “Ayo, ayo, ayo, dipakai dulu jaketnya!” Leo tersenyum dan mengambil jaket merah itu dari bingkisan di tangan Vena. Vena pun menurut dan menggunakan jaket itu. Berikutnya Leo mengeluarkan pula helm merah Vena dan langsung memakaikan helm itu di kepala Vena. Vena hanya terdiam dan menurut saja. Lalu didengarnya bunyi, ‘Klik!’ pertanda helm itu sudah terpasang aman di kepalanya. Vena merasakan jantungnya berdegup sangat kencang sembari Leo meraih tangan Vena dan membawanya ke halaman depan rumah Vena, tempat motornya terparkir.
            Leo yang pertama naik ke atas motor. Lalu ia menengadahkan tangannya tanda ia siap untuk membantu Vena naik ke atas motor. Vena pun naik ke atas motor tersebut. Rasa ragu bercampur takut yang luar biasa membuat tangan Vena berkeringat. Kemudian diraihnya jaket yang digunakan Leo, dan dicengkeramnya sangat erat hingga Leo dapat merasakan rasa takut Vena yang luar biasa dari cengkeraman tangan itu.
            “Are you ready?” tanya Leo pada Vena mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa Vena memang sudah siap. Tanpa jawaban dari Vena membuat Leo memutuskan untuk langsung menyalakan mesin motornya.
            Namun, tak disangka-sangka olehnya, Vena tiba-tiba turun dari motornya dan berlari masuk ke dalam rumah. Ia langsung meringkuk di sofa ruang tamu sambil menutup mukanya. Leo segera menyusul Vena masuk ke dalam rumah. Dipeluknya wanita kesayangannya itu dan terdengarlah isak tangisnya. Leo pun berusaha menenangkannya hingga tangis Vena reda.
***
           
“Beberapa hari kemudian baru dia mulai berani untuk naik motorku. Aku bawa motorku pelan-pelan. Saat itu Vena masih memegang jaketku kencang banget seakan-akan dia bakal jatuh aja kalau motornya jalan,” cerita Leo masih berlanjut, “Syukurlah, lama-lama dia mulai terbiasa dan hasilnya dia bisa jalan-jalan sama aku sekarang. Hehehee....” Dika pun tersenyum melihat wajah sahabatnya itu menunjukkan raut ceria.
            “Pada waktu itu yang aku inginkan cuma buat dia bisa menikmati dunia tanpa ketakutannya itu lagi. Bayangin, lah! Ke kampus setiap hari aja mesti naik bis. Aku antar pulang aja dulu ketakutan setengah mati. Gimana mungkin dia bisa menikmati perjalanan hidupnya nanti jika trauma itu masih terus ada di pikirannya?” kata Leo lagi.
“Aku benar-benar ingin dia bisa merasakan setiap perjalanannya bebas dari rasa takut yang terus menghantuinya. Oleh karena itu, aku janjikan sama dia, kalau dia benar-benar bisa menghilangkan rasa traumanya, aku akan ajak dia travelling ke Bali,” tambah Leo.
“Dan lihat sekarang! Aku benar-benar senang melihat dia sudah bebas dari traumanya itu, bahkan aku juga melihat hari ini dia benar-benar antusias dengan perjalanan pertamanya ke Bali.”
Leo memandang laut lepas di hadapannya dan menyunggingkan senyum lebarnya. Menarik nafas dan menghembuskannya perlahan. Lalu sedikit diminumnya kelapa muda di tangannya, kemudian dia melanjutkan kembali ceritanya.
“Aku juga selalu tanya sama dia sebelum berangkat ke mana pun dengan motor, ‘Are you ready?’. Kamu pasti tau, kan? Hehehe...”
“Ahh.. Iya. Aku lihat. Hahaha... Kenapa memangnya?” tanya Dika penasaran.
“Itu semua karena aku ingin pastikan bahwa dia sudah siap untuk perjalanan kita yang selanjutnya,” jawab Leo kemudian kembali menyeruput kelapa mudanya yang diikuti juga oleh Dika.
Dengan rasa kagum pada Leo, Dika berkata, “Aku benar-benar salut sama kamu. Kamu memang pantas untuk mendapatkan Vena! Aku rasa kamu adalah satu-satunya orang yang bisa membuat setiap perjalanannya menjadi mengesankan buat dia.” Kemudian Dika menepuk bahu Leo beberapa kali tanda dia benar-benar bangga.
            “Hehehe.. Makasih, bro..” jawab Leo.
“Oh, ini sekaligus menjadi pelajaran buat kita, Dika. Kalau bawa motor harus safety first! Hehehe...,” kata Leo lagi, “Pakai sarung tangan, jaket, helm standard SNI, masker, bahkan kalau bisa pakai body protector dan penutup siku dan lutut. Jadi kalau terjadi apa-apa, kita bisa meminimalisir akibatnya.”
            “Iya benar, bro. Semua harus safety first! Hahahaa... Karen juga sering bilang supaya aku nggak ngebut kalau nyetir. Dia bilang ‘Alon-alon asal kelakon’. Hahahahaa....,” kata Dika lalu tertawa saat menirukan gaya bicara Karen.
“Karen benar, tuh! Kan, keluarga menunggu di rumah! Hahahaaa...” sahut Leo yang disambung dengan tawa mereka berdua. Kemudian mereka pun menghabiskan kelapa mudanya sebelum akhirnya kembali ke hotel.
Sampai di kamar, mereka langsung mandi dan merebahkan badan di atas ranjang. Sesaat sebelum tertidur pulas, Leo menyempatkan diri untuk berdoa dengan harapan bahwa esok hari pun hidup akan terus memberikan perjalanan-perjalanan lain yang memberikan kesan indah untuknya dan untuk orang-orang yang dicintainya. #SafetyFirst


THE END



Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen ‘Tertib, Aman, dan Selamat Bersepeda Motor di Jalan.’
#SafetyFirst Diselenggarakan oleh Yayasan Astra-Hoda Motor dan Nulisbuku.com

Comments