Berbagi Kesan dengan yang Tercinta
Bali.... Betapa indahnya pulau
ini. Berapa kalipun seseorang pergi ke sini, dia pasti akan selalu dapat menemukan hal baru di pulau ini. Sama
seperti Vena dan Leo yang jauh-jauh dari Surabaya menghabiskan waktu liburan
tahun barunya bersama kedua temannya di Bali. Mereka telah siap menyambut
petualangan apapun yang akan mereka dapatkan di sini. Vena mengingat betapa Leo
lah orang yang dulu meyakinkannya untuk dapat melawan dirinya sendiri dan juga
segala ketakutannya supaya dapat mengeksplorasi hal-hal baru di dalam hidupnya.
“Setelah
ini kita ke mana?” tanya Vena sambil memandang Leo yang menikmati pemandangan
pantai.
“Hmm....
Di dekat hotel ada yang jual ayam betutu enak banget. Setelah ini kita ajak
Dika dan Karen balik ke hotel dan makan di sana. Gimana?” Leo menjawab sambil
merangkul bahu Vena.
“Oke.
Aku sudah lapar.” Vena tersenyum.
Leo pun mengajak kedua temannya
untuk bersiap-siap kembali ke hotel. Sudah seharian mereka menghabiskan waktu
di pantai Sanur, bermain ombak, surfing,
dan membuat bangunan dari pasir. Betapa menyenangkan. Mereka segera menuju ke
parkiran untuk mengambil motor sewaan yang mereka gunakan selama berlibur. Leo
mengambil jaket dan helm Vena yang tergantung di motor.
“Ingat,
pakai jaket dan helm!” kata Leo sambil tersenyum kepada Vena. Vena mengenakan
jaketnya kemudian Leo memasangkan helm Vena. Lalu Leo memegang bahu Vena,
menatap matanya lembut, dan berkata, “Are
you ready?” Dan Vena pun mengangguk mantap diiringi dengan senyuman di
wajahnya.
Diam-diam
Dika, sahabat Leo yang ikut berlibur ke Bali itu, melirik ke arah Leo dan Vena.
Sambil sedikit tersenyum, Dika teringat bahwa dulu Vena merupakan wanita yang
sangat sulit didekati oleh pria bermotor.
Dika segera menyalakan mesin
motornya dan pergi bersama ke hotel. Sambil menyetir, Dika terus mengingat
saat-saat di mana ia meyakinkan Leo untuk melupakan Vena.
-24 Agustus 2015-
‘Ah...
Bidadari itu..’ kata Leo dalam hati melihat seorang wanita berjalan memasuki
perpustakaan kampus. Vena, wanita berusia 20 tahun, mahasiswi jurusan Ilmu
Komunikasi di salah satu Universitas ternama di Surabaya, yang kehadirannya
selalu membuat banyak pria jatuh hati. Begitu juga Leo, sang kakak kelas yang
baru saja mengenalnya saat mereka terlibat dalam satu kepanitiaan bulan Juli
lalu. Mata Leo tak bisa lepas dari sosok Vena. Apalagi saat melihat Vena
tersenyum, hatinya serasa ikut sumringah saat itu juga.
“LEO! Oooooyyy!!!!” dengan tangan
dikibas-kibaskan di depan muka Leo, Dika setengah berteriak memanggilnya.
“Ssssstttt!!
Gila apa teriak-teriak di perpustakaan?” sahut Leo berbisik sesaat setelah terhenyak dari
lamunan siang harinya.
“Ya, ampun! Siang-siang begini,
pikiran udah melayang ke mana aja nih?? Sampai dipanggil ribuan kali juga nggak
nyahut!”
“Ssssttt....!” Leo menaruh jari
telunjuknya di depan bibirnya, lalu kemudian mengarahkan jarinya ke arah Vena,
“Lihat, bro! Vena cantik banget hari ini.” Saat itu juga Dika melihat Vena yang
sedang menaruh barang-barangnya di dalam loker.
“Jadi itu yang dari tadi buat kamu
jadi sering melamun akhir-akhir ini? Udahlah... Lupakan aja! Dia nggak mungkin
tertarik sama kamu. Dia itu orang yang pilih-pilih.”
“Pilih-pilih maksudnya?” Leo menatap
Dika dengan penuh tanya. Sambil menyiapkan laptopnya, Dika menjelaskan bahwa
Vena sudah menolak beberapa pria dengan alasan mereka naik motor. Leo
mengernyitkan dahinya sedikit tak percaya. Vena, sosok yang terkenal sangat
ramah, supel, dan dapat berbaur dengan siapa saja (bahkan dengan satpam atau
cleaning service sekalipun) bisa memiliki alasan semacam itu untuk menolak
pria?
“Bro, kamu kalau bicara yang benar
aja! Dari mana kamu bisa berpikir seperti itu?”
“Gini, aku ceritain! Vido, si ketua
BEM, tahu, kan? Baru tadi pagi dia cerita kalau dia ditolak oleh Vena dengan
alasan itu. Beberapa minggu yang lalu, Ivan, anak teknik, dia juga cerita hal
yang sama. Dan ternyata masih ada 2 orang lagi yang pernah ditolak Vena dengan
alasan yang sama. Gimana? Masih nggak percaya?”
Leo termangu-mangu dengan penuh rasa
tidak percaya atas apa yang baru saja didengarnya. Dika tertawa kecil melihat
sahabat baiknya itu. Sambil merangkul bahu Leo, Dika sekali lagi berkata,
“Udahlah,
bro. Mumpung kamu juga baru kenal sama Vena, kan? Lebih baik jangan terlalu
berharap lah... Dia pasti juga tahu kalau kamu setiap hari naik motor ke
kampus. Dia nggak mungkin pernah memikirkan untuk bersama kamu ke depannya.”
***
Makanan pesanan mereka datang.
Ayam betutu yang aromanya sudah mengelus-elus hidung sejak mereka sampai di
kedai ini membuat mereka menjadi sangat lapar. Jadi tidak heran mereka begitu
antusias melihat pesanan mereka sampai di meja. Satu jam lamanya mereka
menghabiskan waktu mereka untuk makan bersama. Dika, yang duduk di sebelah
Karen, kekasihnya, sampai kekenyangan karena dia menghabiskan 2 porsi ayam
betutu malam itu. Karen tertawa kecil melihat perut Dika yang membulat setelah
makan.
Setelah
selesai makan dan membayar, mereka berempat pun kembali ke hotel. Karena
terlalu lelah, mereka berempat pun memutuskan untuk langsung masuk ke kamar
masing-masing dan tidur.
***
Keesokan harinya setelah sarapan
bersama di hotel, mereka pun bersiap-siap untuk berangkat. Kali ini mereka akan
mengunjungi tempat penangkaran penyu. Mereka berangkat dengan motor. Sekali
lagi, sebelum berangkat Leo menanyakan hal yang sama pada Vena, “Are you ready?” Lalu Vena pun mengangguk
mantap. Melihat hal itu, Dika agak heran juga, tapi dia tidak mau terlalu
memikirkannya. Mereka pun berangkat bersama dengan motor secara beriringan.
Sepanjang
perjalanan Vena selalu tersenyum. Ia merasakan angin yang berhembus, melihat
rumah-rumah di sepanjang jalan, melihat ke langit arah yang biru, semua
membuatnya ingin selalu tersenyum. Seperti inikah rasanya hal yang dulu dia takutkan?
Ternyata begitu indah jika dinikmati. Semua bisa berjalan dengan baik ketika
kita tahu bahwa kita akan aman, apalagi ada kekasih yang mendampingi
perjalanan-perjalanan kita setiap harinya.
Bayang-bayang
masa lalunya terkadang masih muncul di benaknya, namun hal itu tidak terlalu
berpengaruh lagi sekarang jika dibandingkan dengan dulu. Ketakutan Vena itu
tidak pernah muncul lagi sekarang. Semua berkat Leo yang selalu berusaha
membuatnya melawan segala ketakutannya itu.
Sampai
di tempat penangkaran penyu, mereka berempat menghabiskan waktu dengan bermain
bersama penyu-penyu di sana. Vena dan Karen lebih menyukai penyu-penyu yang
masih kecil. Mereka bisa mengangkatnya karena tidak terlalu berat. Terlebih
lagi, ini adalah pertama kalinya bagi Karen dan Vena melihat penyu secara
langsung. Betapa antusiasnya mereka. Dika dan Leo justru lebih asyik memotret
mereka. Berbekal kamera dari android
mereka masing-masing, mereka terlihat asyik mengabadikan momen-momen mereka di
sana. Terutama Leo, dia begitu asyik memotret wajah kekasihnya yang begitu
cantik dan ceria. Leo memang akan selalu mengagumi senyum dan tawa Vena.
Setelah
puas bermain di penangkaran penyu, mereka pergi menuju ke pelabuhan karena
mereka telah memesan tiket makan siang di kapal cruise. Mereka begitu antusias untuk segera sampai ke pelabuhan.
Sesampainya di pelabuhan, mereka pun langsung berlari menuju kapal cruise yang telah menunggu mereka.
Mereka memilih tempat duduk yang dekat dengan jendela lalu mereka mengambil
secara bergantian beberapa makanan dalam buffet
yang tersedia. Kali ini mereka benar-benar puas makan sambil melihat
pemandangan laut lepas yang membuat siapapun juga ingin ikut merasakannya.
Menjelang
sore, mereka berempat memutuskan untuk segera kembali menuju ke hotel.
Perjalanan hari ini sungguh melelahkan sekaligus menyenangkan bagi mereka.
Setibanya di hotel, Karen dan Vena langsung menuju ke area spa yang tersedia. Mereka telah menanti kesempatan untuk bisa spa di hotel sebagus ini. Berbeda dengan
Leo dan Dika, mereka menuju ke pantai yang dapat mereka akses dari belakang
hotel mereka. Sambil menikmati angin pantai, mereka membeli kelapa muda dan
membawanya berjalan di pesisir pantai dan kemudian duduk di sana menikmati
pemandangan sunset.
Dika
memanfaatkan kesempatan ini untuk memenuhi rasa ingin tahunya kepada Leo.
Bagaimana Vena akhirnya memilih Leo untuk menjadi kekasihnya? Bagaimana Vena
yang menolak cowok bermotor justru memilih Leo yang juga cowok bermotor?
-25 Agustus 2015-
Jam
kuliah hari ini selesai. Vena melihat jam tangannya yang menunjukkan pukul
16.00. Dia bergegas menuju ke jalan raya di depan kampus untuk menunggu bis
yang biasa membawanya menuju ke kompleks perumahannya. Dia baru ingat bahwa
hari ini adik sepupunya ingin dibuatkan kue bolu favoritnya. Saat Vena baru
saja melewati pos satpam, tiba-tiba datanglah seorang pria menghampirinya
dengan mengendarai motor.
“Vena!” panggil pria itu lalu
menghentikan motornya di sebelah Vena. Dia membuka helmnya dan ternyata dia
adalah Leo.
“Oh. Hai, Kak Leo!” jawab Vena
tersenyum melihat Leo menyapanya.
“Mau pulang? Boleh aku antar?” tanya
Leo.
“Hmm.....,” Vena hanya bergumam dan
terlihat bingung.
“Ayolah! Aku bawa satu helm lagi,
kok!” kata Leo tersenyum sambil menyodorkan helm kepada Vena.
“Hmm... Maaf, Kak Leo. Aku pulang
naik bis aja, ya.” tolak Vena halus.
“Kenapa, Ven? Daripada naik bis,
bukannya lebih baik aku antar sampai rumah?”
“Makasih, Kak, tapi aku naik bis
aja. Nggak apa-apa, kok.” Tolak Vena lagi.
“Tapi...”
“Aku duluan, ya, Kak! Bisnya udah
mau sampai! Aku harus cepat-cepat ke halte. Daaahh...” jawab Vena lalu berlari
menuju halte sebelum tertinggal bis. Leo yang tertinggal sendiri di sana hanya
bisa melongo dan bingung. Terpaksa dia pun pulang sendirian tanpa bisa mengajak
Vena pulang bersama.
---
Kue
bolu yang lezat sudah jadi. Vena segera menghidangkannya di meja makan.
Bibinya, kakak dari ayahnya, berjalan menuju ke meja makan bersama Evan, yang
tak lain adalah adik sepupu Vena.
“Wah, kue bolunya sudah jadi! Aku
ambil piring, ya, Kak! Sudah nggak sabar, nih! Hehehee..” kata Evan, cowok
kelas XI SMA itu, sambil mencari piring di lemari dapur.
“Vena, kamu pasti capek, ya pulang
dari kampus langsung harus bikin kue bolu. Evan, lain kali kamu jangan bikin
repot Kak Vena lagi, ah! Kasihan, kan..” kata Bibi Lisa pada anaknya itu.
“Ah, sudahlah, Bi. Aku buat kue bolu
dengan senang hati, kok.” sahut Vena sambil tersenyum pada bibinya. Vena sejak
kecil sudah tinggal bersama keluarga bibinya ini sehingga Vena sudah menganggap
keluarga ini seperti keluarganya sendiri.
“Tuh, Mama dengar, kan Kak Vena
bilang apa? Hehehe... Sering-sering, lho, Kak!” kata Evan menggoda kakaknya.
“Wah.. Dasar kamu, nih, Van!” sahut
Bibi Lisa pada Evan. Bibi Lisa pun mengambil pisau dan memotong kue bolu yang
masih panas itu di atas meja makan. Tak lama kemudian Paman Danny pun menyusul
ke meja makan setelah mencium aroma kue bolu yang tercium sampai ke teras depan
rumah.
Paman Danny memuji
keponakannya itu yang sangat pandai membuat kue dan memasak segala jenis
masakan. Vena tersenyum mendengar pujian itu.
Tiba-tiba HP Vena bergetar. Vena
pergi ke kamarnya dan membuka HPnya. Lalu ia tersenyum melihat ada chat masuk
dari Leo.
‘Hai, Vena. Lagi apa, nih? Sudah
makan? Ayo kita makan bareng. Ada waktu?’
Vena senang sekali mendapatkan chat
itu. Baru saja ia ingin menyetujui untuk makan bersama, tapi akhirnya Vena
beralih mengetik pertanyaan lain.
‘Kak Leo mau jemput aku? Naik apa?’
Tak lama kemudian, Leo membalasnya,
‘Naik motor, dong. Aku, kan kos. Aku cuma ada motor. Kita makan dekat rumahmu
aja, deh. Jadi nggak jauh-jauh amat dari rumahmu. Gimana?’
Vena terdiam sebentar. Teringat lagi
kejadian kala itu. Tanpa berpikir panjang lagi, Vena menolak tawaran Leo,
‘Maaf, Kak. Mungkin lain kali aja kita makan bareng, ya?’
Dengan sedikit bingung, Leo menjawab
lagi, ‘Oke kalau begitu. Besok kita makan siang bareng, ya? Di kantin kampus.’
Sambil tersenyum, Vena menjawab,
‘Oke, Kak. See you!’ Setelah itu Vena kembali ke meja makan dengan senyum
merekah di wajahnya.
***
“Awalnya aku sempat bingung,
sih,” kata Leo pada Dika, “Aku sempat hampir percaya bahwa Vena memang tidak
menyukai cowok bermotor.”
“Terus,
apa yang membuat kamu terus mau dekatin Vena?” tanya Dika lalu menyeruput
kelapa mudanya.
“Aku
melihat ada rasa takut yang tersembunyi ketika aku mengajaknya naik motor, tapi
pada saat itu aku nggak ngerti apa.” jawab Leo.
“Ketakutan
apa? Takut naik motor? Takut diculik maksudnya?? Hahahahaa...” ledek Dika
menanggapi pernyataan Leo sambil tertawa.
“Kamu
tahu? Vena tinggal dengan keluarga pamannya?” tanya Leo.
“Oh,
ya?? Aku baru tahu. Memang orangtuanya ke mana?” sahut Dika.
“Mereka
sudah meninggal waktu Vena masih usia 6 tahun.”
“Oh....
Maaf.. Aku nggak bermaksud...”
“Nggak
apa-apa. Aku ngerti, kok.” kata Leo sembari memainkan pasir di dekat ia duduk.
“Pasti
berat banget, ya buat Vena,” kata Dika pelan, “Lalu apa hubungannya sama yang
tadi?”
-Juni 2001-
“Vena, sayang. Mama sama papa pergi dulu
sebentar, ya. Cuma sebentar aja, oke?” kata mama Vena pada anaknya yang berusia
6 tahun itu.
“Jangan, Ma... Mama di rumah aja
sama Vena... Nggak mau, Ma...” rengek Vena.
“Sayang, sebentar aja, kok. Kamu di
rumah sama Mbak Mila dulu, ya. Nanti kita pulang bawa oleh-oleh buat kamu.
Mau?” kata papanya mencoba menenangkan anaknya.
“Nggak mau, Pa.... Vena nggak mau di
rumah sendirian sama Mbak Mila aja. Maunya sama Papa Mama...”
“Sebentar aja, kok, sayang. Kamu
jangan merengek terus, dong. Tunggu sebentar aja. Oke?” kata papa Vena lagi,
”Mbak, tolong jagain Vena sebentar, ya. Kita pergi sebentar cuma ke supermarket
dekat sini.”
“Sebentar saya ambilin helm sama
jaketnya, ya, Tuan.” kata Mbak Mila hendak bergegas.
“Nggak usah, Mbak. Kita hanya ke
dekat sini, kok,” sahut papa Vena lagi, ”Kalau kami perginya jauh baru kamu
siapkan jaket sama helmnya.”
Kemudian orangtua Vena bergegas
menaiki motor dan motor itu melesat dengan cepatnya dan dalam sekejap motor itu
menghilang di ujung tikungan. Mbak Mila sempat menggelengkan kepalanya dan
berkata sendiri, ”Tuan memang paling jago kalau urusan ngebut-ngebutan begini.”
Mbak Mila pun menggendong Vena masuk ke dalam
rumah. Itulah terakhir kalinya Vena melihat orangtua mereka. Vena menangis dan
menunggu mereka pulang hingga ia tertidur malam itu. Keesokan harinya ia melihat
Bibi Lisa datang ke rumahnya dan mengatakan bahwa mulai saat itu Vena akan
tinggal bersamanya.
***
“Jadi, orangtuanya meninggal
dalam kecelakaan motor??” kata Dika setengah tidak percaya, “Leo, aku nggak pernah
nyangka alasannya ternyata seperti itu,” sambungnya lagi dengan mata yang masih
melotot memandang Leo di sebelahnya.
“Vena
takut kalau dia naik motor, dia nggak akan bisa pulang lagi, sama seperti kedua
orangtuanya. Dia punya trauma semacam itu dari kecil. Aku sempat nggak bisa
berkata apa-apa juga waktu Vena menceritakan hal itu ke aku.”
Mereka
terdiam sejenak saat itu juga. Leo membuka androidnya
dan tersenyum memandang foto-foto Vena.
***
-28 Oktober 2015
“Vena, ini aku belikan helm dan
jaket khusus buat kamu,” kata Leo sambil menyodorkan bingkisan yang dipegangnya
pada Vena, “ Ayo sekarang kita coba naik motor!”
Vena melihat bingkisan itu,
menerimanya, dan melongok ke dalam. Dilihatnya sebuah jaket merah yang cantik
dan helm standard SNI berwarna merah pula, warna kesukaan Vena. Hatinya
bergetar ketakutan, tapi dilihatnya kekasihnya itu benar-benar meyakinkan Vena
bahwa dia akan aman bersama Leo.
“Ayo, ayo, ayo, dipakai dulu
jaketnya!” Leo tersenyum dan mengambil jaket merah itu dari bingkisan di tangan
Vena. Vena pun menurut dan menggunakan jaket itu. Berikutnya Leo mengeluarkan
pula helm merah Vena dan langsung memakaikan helm itu di kepala Vena. Vena
hanya terdiam dan menurut saja. Lalu didengarnya bunyi, ‘Klik!’ pertanda helm
itu sudah terpasang aman di kepalanya. Vena merasakan jantungnya berdegup
sangat kencang sembari Leo meraih tangan Vena dan membawanya ke halaman depan
rumah Vena, tempat motornya terparkir.
Leo yang pertama naik ke atas motor.
Lalu ia menengadahkan tangannya tanda ia siap untuk membantu Vena naik ke atas
motor. Vena pun naik ke atas motor tersebut. Rasa ragu bercampur takut yang
luar biasa membuat tangan Vena berkeringat. Kemudian diraihnya jaket yang
digunakan Leo, dan dicengkeramnya sangat erat hingga Leo dapat merasakan rasa
takut Vena yang luar biasa dari cengkeraman tangan itu.
“Are you ready?” tanya Leo pada Vena
mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa Vena memang sudah siap. Tanpa jawaban
dari Vena membuat Leo memutuskan untuk langsung menyalakan mesin motornya.
Namun, tak disangka-sangka olehnya,
Vena tiba-tiba turun dari motornya dan berlari masuk ke dalam rumah. Ia
langsung meringkuk di sofa ruang tamu sambil menutup mukanya. Leo segera
menyusul Vena masuk ke dalam rumah. Dipeluknya wanita kesayangannya itu dan
terdengarlah isak tangisnya. Leo pun berusaha menenangkannya hingga tangis Vena
reda.
***
“Beberapa hari kemudian baru dia
mulai berani untuk naik motorku. Aku bawa motorku pelan-pelan. Saat itu Vena masih
memegang jaketku kencang banget seakan-akan dia bakal jatuh aja kalau motornya
jalan,” cerita Leo masih berlanjut, “Syukurlah, lama-lama dia mulai terbiasa
dan hasilnya dia bisa jalan-jalan sama aku sekarang. Hehehee....” Dika pun
tersenyum melihat wajah sahabatnya itu menunjukkan raut ceria.
“Pada
waktu itu yang aku inginkan cuma buat dia bisa menikmati dunia tanpa
ketakutannya itu lagi. Bayangin, lah! Ke kampus setiap hari aja mesti naik bis.
Aku antar pulang aja dulu ketakutan setengah mati. Gimana mungkin dia bisa
menikmati perjalanan hidupnya nanti jika trauma itu masih terus ada di
pikirannya?” kata Leo lagi.
“Aku benar-benar ingin dia bisa
merasakan setiap perjalanannya bebas dari rasa takut yang terus menghantuinya.
Oleh karena itu, aku janjikan sama dia, kalau dia benar-benar bisa
menghilangkan rasa traumanya, aku akan ajak dia travelling ke Bali,” tambah Leo.
“Dan lihat sekarang! Aku
benar-benar senang melihat dia sudah bebas dari traumanya itu, bahkan aku juga
melihat hari ini dia benar-benar antusias dengan perjalanan pertamanya ke
Bali.”
Leo memandang laut lepas di
hadapannya dan menyunggingkan senyum lebarnya. Menarik nafas dan
menghembuskannya perlahan. Lalu sedikit diminumnya kelapa muda di tangannya,
kemudian dia melanjutkan kembali ceritanya.
“Aku juga selalu tanya sama dia
sebelum berangkat ke mana pun dengan motor, ‘Are you ready?’. Kamu pasti tau, kan? Hehehe...”
“Ahh.. Iya. Aku lihat. Hahaha...
Kenapa memangnya?” tanya Dika penasaran.
“Itu semua karena aku ingin
pastikan bahwa dia sudah siap untuk perjalanan kita yang selanjutnya,” jawab
Leo kemudian kembali menyeruput kelapa mudanya yang diikuti juga oleh Dika.
Dengan rasa kagum pada Leo, Dika
berkata, “Aku benar-benar salut sama kamu. Kamu memang pantas untuk mendapatkan
Vena! Aku rasa kamu adalah satu-satunya orang yang bisa membuat setiap perjalanannya
menjadi mengesankan buat dia.” Kemudian Dika menepuk bahu Leo beberapa kali
tanda dia benar-benar bangga.
“Hehehe..
Makasih, bro..” jawab Leo.
“Oh, ini sekaligus menjadi
pelajaran buat kita, Dika. Kalau bawa motor harus safety first! Hehehe...,”
kata Leo lagi, “Pakai sarung tangan, jaket, helm standard SNI, masker, bahkan
kalau bisa pakai body protector dan
penutup siku dan lutut. Jadi kalau terjadi apa-apa, kita bisa meminimalisir
akibatnya.”
“Iya
benar, bro. Semua harus safety first! Hahahaa... Karen juga
sering bilang supaya aku nggak ngebut kalau nyetir. Dia bilang ‘Alon-alon asal kelakon’. Hahahahaa....,”
kata Dika lalu tertawa saat menirukan gaya bicara Karen.
“Karen benar, tuh! Kan, keluarga
menunggu di rumah! Hahahaaa...” sahut Leo yang disambung dengan tawa mereka
berdua. Kemudian mereka pun menghabiskan kelapa mudanya sebelum akhirnya
kembali ke hotel.
Sampai di kamar, mereka langsung
mandi dan merebahkan badan di atas ranjang. Sesaat sebelum tertidur pulas, Leo
menyempatkan diri untuk berdoa dengan harapan bahwa esok hari pun hidup akan
terus memberikan perjalanan-perjalanan lain yang memberikan kesan indah untuknya
dan untuk orang-orang yang dicintainya. #SafetyFirst
THE END
Blog post ini dibuat
dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen ‘Tertib, Aman, dan Selamat
Bersepeda Motor di Jalan.’
#SafetyFirst Diselenggarakan oleh Yayasan Astra-Hoda Motor dan Nulisbuku.com
#SafetyFirst Diselenggarakan oleh Yayasan Astra-Hoda Motor dan Nulisbuku.com
Comments
Post a Comment